Negatif tow Positif
Wednesday, October 26th, 2005Umum: Subjektivitas sebuah penilaian.
Khusus: Penyikapan terhadap suatu keadaan dalam pola hubungan.
Melihat dari judul yg telah aku tetapkan [apa seeh!]… dah jelas banget khan, terdapat suatu kutub yg bertolak belakang. dipandang dari sudut manapun. tapi di situlah misterinya. ada banyak sekali perbedaan dalam kehidupan, tentunya ada banyak sekali sisi subjektivitas setiap individu. baiklah kita urai satu persatu [cielah, kayak kuliah aja neeh!] How about negative or positive? jelas banget khan, secara terminologi [gak usah gwe jelasin lagi] tp ada sisi yg terselubung dari kedua penilaian tersebut. terutama bila penilaian secara subjektif. dan sebagai manusia, kayaknya kita gak bakalan bisa bersikap objektif deh! Oops, gini maksudnya. Kita menilai ’sesuatu’ sebagai hal yg positif tow negatif sangat dipengaruhi oleh kepentingan kita. kalo dianggap menguntungkan maka kita akan menganggapnya positif. dan sebaliknya, kalo dianggap merugikan maka akan disebut negatif ama kita. simpelnya gini; hujan punya nilai positif or negatif. Kalo mau jujur, hujan tak memiliki nilai apapun jika kita tak terlibat di dalamnya. tapi siapa orangnya seeh, yg gak pernah bersinggungan dengan yg namanya hujan? kita akan mengatakan hujan bernilai negatif saat kita basah kuyup kehujanan dan akhirnya terserang flu. tapi kita akan mengatakan hujan bernilai positif saat kita membutuhkannya untuk menyirami berhektar2 lahan pertanian kita. hmmm, ambivalensi. bukan. sama sekali bukan sebuah ambivalensi. tapi itulah manusia.
Sekarang kita berbicara sesuatu yg lebih khusus. Relationship. hmm, sebuah sistem sosial yg paling tua. saat pertama kalinya Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. inilah hubungan manusia dengan manusia. kita gak akan membahas lagi mengenai subjektivitas manusia terhadap manusia. karena hal tersebut hampir mirip kondisinya dengan penilaian manusia terhadap lingkungan sekitarnya. yang lebih menarik adalah "benarkah sesuatu yg negatif adalah melulu negatif? benarkah sesuatu yg positif adalah melulu positif? dalam pola hubungan manusia"
btw, sebelum melangkah lebih jauh sebaiknya kita membatasi pola hubungan yg akan kita bahas. karena pola hubungan sosial sangatlah beragam, mulai dari bangsa, komunitas, klik sosial, pertemanan hingga romantisme. Yup, saat ini kita akan membahas nilai negatif atau positif yang dialami dalam pola romantisme. [jadi bukan apakah romantisme itu positif or negatif? tapi sesuatu yg terjadi saat kita menjalin romantisme, apakah negatif adalah melulu negatif dan apakah positif adalah melulu positif?] bingung yah? gak usah bingung deh! tapi kalo bingung juga wajar.
ok deh, sebaiknya langsung bicara. hmm, ambil beberapa contoh yg dianggap sebagai hal2 yg negatif dalam suatu pola hubungan romatis. cemburu, pertengkaran, posesif, egois, selingkuh, gak setia, bermanis kata, tukang bokis, … adalah beberapa contoh sesuatu hal yg dianggap negatif dalam pola hubungan romantisme. tapi apakah benar sesuatu yg negatif akan melulu bersifat negatif. jawabnya adalah terserah kita. lho koq, terserah kita. emmmm… maksudnya adalah tergantung dari pola pikir dan bagaimana kita menyikapinya.
sebagai contoh, pertengkaran. secara umum sudah dapat dipastikan sebagai sesuatu yg negatif. tapi bila kita mau melihat lebih dekat maka sesuatu yg sudah dianggap negatif oleh umum dapat kita sulap menjadi sebuah kebaikan atau setidaknya akan melahirkan sebuah kebaikan [menjadi bernilai positif bukan?] gimana ini? kita harus bisa mengurai dan menganalisa faktor penyebab dan akibat yg ditimbulkan oleh sebuah pertengkaran. mudah2an kita bisa mempelajarinya dan menemukan metode terbaik untuk menghindari pertengkaran di masa2 yg akan datang. atow kalo gak bisa dihindari, setidaknya dari pertengkaran itu akan melahirkan sebuah nilai, perspektif, sikap, tindakan atau reaksi lainnya yg bernilai positif. konkretnya; dengan adanya pertengkaran maka kita akan tahu apa yg menyebabkan pertengkaran itu… introspeksi lalu perbaiki. setelah pertengkaran kita akan lebih menghargai pasangan kita. mengerti dan memahami cara pandangnya dan pola pikirnya pasangan kita. belajar mengendalikan emosi sesaat. belajar untuk tidak saling menyalahkan tapi bagaimana memperbaiki kesalahan. mengalah. syapa yg mengalah duluan untuk minta maaf? berbesar hati. dan masih banyak yg lainnya.
positive or negative? terserah padamu.
