Selalu Berkurang
Thursday, October 26th, 2006Seiring dengan menipisnya Hidrogen dalam reaksi fusi inti matahari, demikian pula yang selalu kurasakan. Adakah hukum kesetimbangan reaksi berlaku di sini? Jika setiap detik kulalui aku merasa jiwaku berkurang, mimpiku memudar, rasaku semakin hambar dan hidupku menjadi monoton… Apa yang kudapatkan dari itu semua. Bahkan aku tak ingin sebuah kedewasaan, sebuah tanggung jawab yang harus kuperjuangkan. Basi, jika kutanyakan "APA TAKDIRKU?" hanya orang bodoh yang selalu mengulang 2 kata itu. dan aku tak ingin mengucapkannya.
Adakah yang bertambah dalam diriku? Hasrat yang mengental dan akhirnya mengkristal. Rentetan kata yang selalu ingin kusampaikan untuk kaurangkai menjadi puisi yang terindah yang kita bacakan saling bersambut dengan gembira. CINTA.
Mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Karena seperti manusia normal lainnya, kadang prasangka dan kesangsian yang berkuasa. Saat semua kilasan kenangan berlintasan, saat bayang wajah dari setiap wanita yang pernah menyayang, saat semua harapan yang pernah dibangun malah ambruk dan menimbun kehendak. Dan sebuah jalan panjang di depan lengkap dengan semua rambu dan aturan yang "harus" dipatuhi telah siap menerima setiap pijakan kaki dari langkahku yang limbung.
Oke, akan kuperjelas dengan logika. Masa lalu dengan cinta dan wanita, yang bersama bermimpi membangun masa depan. pupus sudah. Masa kini, dimana sekarang aku menapak dan berusaha berdiri dengan memperluas ruang di sekitarku. masih semu. Masa depan, dimana harapan dipikulkan kepadaku, tentang norma dan kelaziman kehidupan pribadi dari budaya timur. aku lelah.
Benarkah kutukan cinta itu?